(Mazmur 14, Roma 3, 1 Korintus 18, Kisah 22
Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan: Pelajaran 1
Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Jawaban yang disarankan terdapat di antara tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Apakah saudara senang disebut “bodoh” atau “bebal?” Walau saya tidak meributkan hal ini, pelajaran kita minggu ini sedikit mengubek-ubek istilah “bodoh”. Kalau tidak suka dengan istilah itu, barangkali saudara sebaiknya kabur! Serius, apakah berbahaya untuk berpikir bahwa kita tidak bodoh? Jika kita bodoh, adakah jalan untuk menjadi “mantan orang bodoh?” Seri pelajaran baru yang dimulaikan minggu ini mengajak kita untuk memikirkan kembali setiap aspek kehidupan kita. Gantinya percaya pada pikiran bodoh kita, kebijaksanaan kita, kita akan mempelajari manfaat dari memandang kepada Allah untuk mengatasi masalah-masalah dalam hidup kita. Mari kita mulai!
1.
Orang-orang Bodoh
1.
Baca Mazmur 14:1.
Selintas kilas, mengapa orang bebal itu busuk atau jahat? (Nampaknya karena ia
tidak percaya akan Allah.)
1.
Mengapa bagian
kedua dari ayat ini mengatakan “tidak ada” yang berbuat baik? Atau, adakah itu
berarti “tidak ada orang bebal yang berbuat baik?”
2.
Baca Mazmur
14:2-3. Apa kita masih membatasi bahwa perbuatan jahat itu milik para orang
bodoh? (Allah memandang ke bawah dan melihat bahwa kita semua jahat.)
1.
Lihat lagi kedua
ayat ini. Apa sumber masalahnya? (Kita tidak mencari atau mengerti Allah.
Kita sudah “menyeleweng.”)
2.
Lantas, apa kita
semua orang bodoh? Tentu saja mereka yang membaca pelajaran GoBible percaya
adanya Allah. Bahkan pembaca GoBible adalah orang-orang bodoh? (Pemazmur menyebutkan
bahwa kita tidak sungguh-sungguh soal menerima Allah sebagai Tuhan kita. Kita
tidak sungguh-sungguh soal mengerti dan mencari Allah. Ini menjadikan kita
semua orang bodoh.)
3.
Dalam Roma 3:10-17
Paulus mengutip Mazmur 14:1-3 (dan ayat Mazmur lain) untuk menyusun sebuah
kesimpulan logis. Baca Roma 3:19-20. Dengan mempertimbangkan bahwa kita tahu
kita semua bodoh, apa gunanya hukum? (Untuk mencegah kita menyombong soal
betapa baiknya kita dan untuk membuat kita mawas diri bahwa kita bodoh!)
4.
Baca Roma 3:21-22.
Adakah harapan bagi orang bodoh? (Ya. Orang bodoh memiliki jalan kepada
kebenaran yang datang melalui iman di dalam Yesus semata.)
5.
Baca Roma 3:23-26.
Minggu lalu kita mengakhiri pelajaran kita tentang injil Markus. Kita baru
saja melewati penyaliban dan kebangkitan Yesus. Bagaimana salib menunjukkan
(ay. 25) keadilan Allah? (Salib menunjukkan kita bahwa Allah memperlakukan dosa
dengan sangat serius. Kita orang-orang bodoh tidak memahami hal ini sejelas
yang seharusnya, tapi Allah memperlakukan dosa dengan amat serius hingga Ia
rela mengalami kematian yang menyakitkan untuk membayar sanksi atas dosa kita.)
6.
Kesimpulan apa yang
seharusnya kita capai pada titik ini? (Orang-orang bodoh mempunyai jalan masuk
untuk menjadi orang benar oleh percaya dalam Yesus. Di saat yang sama, dosa
adalah suatu hal yang sangat berbahaya yang orang-orang bodoh harus perlakukan
dengan serius.)
2.
Orang Bodoh Yang
Pulih
1.
Baca 1 Korintus
1:18. Apa yang memisahkan orang bodoh total dari orang bodoh yang pulih? (Apakah
mereka percaya kepada “pemberitaan tentang salib” atau tidak.)
1.
Apa “pemberitaan
tentang salib” itu? (Pemberitaan tentang salib adalah bahwa dalam keberadaan
kita, kita semua adalah orang bodoh. Satu-satunya jalan kepada keselamatan
adalah melalui kuasa Allah. Pemberitaan tentang salib adalah juga tentang
kasih Allah yang tak terbatas dan ketidaktoleransian-Nya terhadap dosa.)
2.
Baca 1 Korintus
1:19-21. Apa masalahnya dengan kearifan dunia? (Tidak mengetahui Allah, tidak
mengenal Yesus.)
1.
Jika saudara
perhatikan dengan seksama 1 Korintus 1:21, sepertinya disebutkan bahwa adalah
rencana Allah (“hikmat”-Nya) bahwa kearifan duniawi tidak akan mengerti Yesus.
Mengapa Allah ingin menghindarkan dukungan dari kearifan dunia? (Kita sedang
mulai melihat sebuah sanggahan melawan percaya diri. Percaya diri dalam bidang
kebijaksanaan membawa kita ke dalam kesulitan. Makin kurang bodoh kita dalam
standar dunia, makin tambah bodoh kita dalam standar Allah.)
3.
Apakah ini berarti
bahwa Kekristenan “anti-cerdik pandai?”
1.
Baca 1 Korintus
1:22-25. (Allah adalah bijaksana serta kuat lebih dari ukuran kearifan dan
kekuatan manusia. Artinya Allah tidaklah “anti-cerdik pandai”;artinya kita
tidak cukup mengerti kebijaksanaan-Nya.)
4.
Baca 1 Kor
1:26-29. Kabar baik apa yang tertera di sana bagi kita? (Bahwa kita semua
mempunyai kemungkinan untuk pulih dari kebodohan dan untuk mempelajari
kebijaksanaan Allah! Kita tidak perlu pintar dari lahir untuk mendapatkan
bagian dalam kebijaksanaan Allah.)
3.
Contoh Kebodohan
1.
Baca Kisah 22:2-3.
Apakah Paulus seorang berpendidikan tinggi? (Ya.)
1.
Apa bidang
studinya? (Agama)
2.
Baca Kisah 22:4-5.
Betapa bersemangat dan rajinkah Paulus?
Apa saudara mau mempekerjakannya?
2.
Baca Kisah 22:6-9.
Apa yang mengawali perubahan dalam hidup Saulus (Paulus)? (Ia melihat cahaya.)
1.
Baca Kisah
9:10-14. Apakah Ananias prihatin bahwa Allah tidak sepenuhnya mengetahui ihwal
Saulus/Paulus?
Adakah Allah sedang memilih seorang bodoh untuk pergi berbicara kepada seorang
bodoh lainnya?
1. Apakah ini kabar baik atau kabar buruk?
3.
Baca Kisah 9:15.
Mengapa Allah memilih Saulus?
4.
Baca Kisah
9:17-19. Adakah Paulus siap digunakan Allah dalam kondisinya terdahulu?
1.
Apa yang salah
dengan kondisinya terdahulu? (Dikiranya ia dapat melihat. Dikiranya ia benar.
Perlu terang baru dan kepenuhan Roh Kudus bagi Paulus untuk benar-benar
melihat.)
5.
Baca Kisah 22:10.
Apa tanggapan pertama Paulus tatkala melihat cahaya? (“Apakah yang harus
kuperbuat?”)
1.
Apa ini tanggapan
yang tepat?
6.
Sobat, bagaimana
dengan saudara? Apa saudara puas dengan pengetahuanmu sekarang tentang Allah?
Atau, sediakah saudara melihat terang baru, meninggalkan kebodohan di belakang
dan mempelajari jalan Allah? Jika demikian, mari ikut saya dalam petualangan
besar kwartal ini untuk belajar tentang menjadikan Yesus Tuhan atas setiap
aspek dalam kehidupan kita!
4. Pekan depan: Tuhan atas Hal-hal yang Kita Utamakan.