(Matius 5, Keluaran 20, Yakobus 1, Kolose 3, Filipi 4)
Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan: Pelajaran 3
Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Jawaban yang disarankan terdapat di antara tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Pernahkah saudara mendengar orang mengatakan, “Saya tidak ingin menjadi Kristen karena semuanya adalah setumpuk ‘jangan buat ini dan jangan buat itu?” Orang yang berkata demikian sedikitpun tidak mengetahui kerinduan Allah bagi kehidupan kita. Kekristenan, sebagaimana yang akan kita pelajari minggu ini, adalah pertempuran hati, bukan fisik. Mari selami pelajaran kita!
1.
Yesus Meninggikan
Standar
1.
Baca Matius 5:21-22.
Di mana disebutkan “Jangan membunuh?” (Salah satu dari Sepuluh Hukum: Keluaran
20:13.)
1.
Jika saudara memikirkan
hal-hal yang seorang Kristen tidak boleh lakukan, di posisi manakah pembunuhan
berada dalam daftar “jangan”?
2.
Yesus menyamakan marah
dengan membunuh. Adilkah ini?
1.
Apakah Yesus sekedar
menambah panjang daftar ‘jangan’ ?
3.
Yesus tidak hanya
sekedar menyebutkan marah. Matius 5:22 bagian akhir menurut Alkitab Bahasa
Indonesia Sehari-hari menyebutkan: “…barangsiapa mengatakan kepada orang lain,
‘Tolol,’ patut dibuang ke dalam api neraka. Sepuluh Hukum melarang pembunuhan,
sekarang marah dan bahkan menyebut seseorang tolol oleh Yesus diangkat ke
tingkatan yang sama.
1.
Dua minggu lalu saya
berkunjung ke sebuah gereja dan kelas Sekolah Sabat sedang membahas bagian dari
Ucapan Bahagia ini. Saya menggunakan PDA saya sebagai Alkitab. Di dalamnya
ada versi New Living Translation. Saya terusik sekali ketika mendapati
bahwa NLT menterjemahkan “tolol” sebagai “idiot.” Saya jarang menyebut
seseorang “tolol,” tapi sering mengidentifikasi pengemudi kendaraan lain
sebagai idiot. Pengamat burung mengidentifikasi burung. Apa salahnya
mengidentifikasi pengemudi?
2.
Baca Matius 5:27-28. Di
mana disebutkan “Jangan berzinah?” (Kembali lagi, ini merupakan bagian dari
Sepuluh Hukum: Keluaran 20:14.)
1.
Apakah Yesus sedang
menyamakan memandang dengan penuh berahi dengan berbuat zinah?
1.
Atau, apakah berzinah
di hati adalah suatu hal yang tidak sama seriusnya dengan dosa berbuat zinah?
2.
Lagi-lagi, Yesus
mengangkat pemikiran kita ke tingkatan dosa yang sangat serius. Adilkah ini?
2.
Kejahatan Pikiran
1.
Baca Markus 7:20-23.
Apa maksud Yesus ketika mengatakan “apa yang keluar dari seseorang,” itulah
yang menajiskannya? (Yesus berkata tentang pikiran – yang Yesus sebut “hati.”)
2.
Baca Yakobus 1:13-15.
Apa yang sedang dibicarakan Yakobus ketika menulis apabila “keinginan itu telah
dibuahi?” (Ia sedang membicarakan pikiran kita.)
1.
Jika saudara bertanya
kepada Yakobus apa ia percaya bahwa pemikiran kita adalah kunci kepada
kehidupan atau kematian, apa yang ia akan katakan? (Yakobus menunjuk kepada
perkembangan alami dari keinginan jahat kepada kematian.)
3.
Apa yang dua ayat ini
(Markus dan Yakobus) ajarkan tentang asal mula dosa dalam kehidupan kita?
(Semua dosa berawal dari pikiran.)
1.
Lantas apa kesimpulan
logis tentang bagaimana mengatasi pikiran kita? Apakah oke-oke saja memikirkan
sesuatu jika kita tidak melakukannya? (Tidak. Perintah Yesus kepada kita adalah
bahwa pembunuhan dan perzinahan sejatinya bersumber dari pikiran kita. Jika kita
ingin menghindarkan perzinahan kita perlu menghindar diri dari memikirkannya.)
1.
Dengan latar belakang
ini, mengapa menyebut seseorang “idiot” (Matius 5:22) menjadi masalah? (Saya
pikir Yesus memberitahu kita bahwa bergerak menuju tindakan pembunuhan itu
sebuah proses. Menyebut seseorang ‘idiot’ mengurangi respek saudara kepada
orang tersebut. Ini menjadi langkah pertama di jalan menuju pembunuhan.
Menjadi marah kepada seseorang adalah langkah berikutnya. Kebanyakan orang
tidak menuntaskan jalan ini, tapi Yesus mengatakan agar kita menghindar diri
sama sekali dari jalan itu.)
2.
Di masa muda, saya
kenal seorang pendeta yang meninggalkan istri dan anak-anaknya dan lari dengan
wanita lain. Ada spekulasi bahwa sesuatu tiba-tiba terlintas di benak orang baik
ini dan ia berubah. Apakah demikian menurut saudara? (Tidak. Saya berani
bertaruh bahwa ia telah mereka-reka hal ini dalam pikirannya ratusan kali
sebelum dia benar-benar melakukannya. Tindak dosa adalah hasil dari proses
mental. Hal ini tidak terjadi dalam semalam.)
3.
Baca Keluaran 20:17.
Apa arti “mengingini istri sesamamu?” (Di sini, di akhir daftar ‘jangan’ yang ngetop
itu, terdapat bukti bahwa dosa-dosa ini bermula dalam pikiran. Jika
saudara tidak mau berzinah, jangan menginginkan istri orang lain.)
1.
Mari kembali kepada
Yesus dan Ucapan Bahagia. Baca Matius 5:28-30. Masuk akalkah pernyataan Yesus
ini setelah apa yang telah dikatakanNya tentang pikiran dan apa yang telah kita
pelajari?
1.
Jika saudara mencungkil
mata kanan saudara karena saudara mempunyai kebiasaan memandang wanita dengan
penuh berahi, apakah itu menunjukkan akar masalahnya?
2.
Jika saudara memotong
tangan kanan saudara, karena saudara mempunyai kebiasaan mencuri, apa itu
menunjuk akar masalahnya? (Jawab bagi kedua pertanyaan ini adalah “Tidak.”
Tatkala Yesus mengajar kita untuk tidak memandang dengan penuh berahi, tidak
mengata-ngatai seseorang, tidak marah, Dia mengajar kita bahwa sumber dosa ada
di pikiran. Bukan tangan atau mata saudara yang membuat saudara berdosa. Otak
saudara lah. Saudara perlu mencabut otak saudara untuk itu!)
1.
Why, then, is Jesus
giving us instructions that He knows will not work - instructions which are
contrary to what He just taught? (We obviously cannot gouge out our brain - and
still live for Christ. At the same time, no want wants to lose an eye or a
hand. Jesus is simply telling us to consider the seriousness of this problem.
If you could give up an eye or a hand and be sure of heaven, you would do it,
right? Thus, Jesus is saying that if we would be willing to lose an eye or a
hand for heaven, how about losing the sin? Why not take the sin problem in your
life very seriously?) Lantas, mengapa Yesus memberi instruksi yang Ia tau tidak
akan behasil dijalankan – instruksi yang bertentangan dengan apa yang Ia baru
ajarkan? (Jelas kita tidak dapat mencabut otak kita – dan tetap hidup untuk
Kristus. Dalam pada itu, tidak seorang pun mau kehilangan mata atau tangan.
Yesus semata memberitahu kita untuk memikirkan betapa seriusnya masalah ini.
Jika saudara dapat menyerahkan mata atau tangan dan pasti masuk surga, saudara
pasti akan melakukannya, kan? Jadi, Yesus mengatakan bahwa jika kita
reka kehilangan mata atau tangan demi surga, bagaimana dengan menghilangkan
dosa? Bagaimana kalau saudara menjadikan dosa dalam hidup saudara itu masalah
yang sangat serius?
1.
Baca Kolose 3:1-2.
Kita diminta untuk mengarahkan pikiran kita kepada “perkara-perkara yang di
atas.” Dalam praktek, bagaimana saudara hendak melaksanakan hal tersebut?
2.
Baca Kolose 3:5-8.
Berapa banyak hal dari dua daftar ini terkait dengan pikiran? (Lumayan banyak.)
1.
Apabila Kolose 3:7
mengatakan bahwa dahulu kita biasa "melakukan hal-hal itu,” apa maksudnya?
2.
How can we avoid
"walking" in these mental sins? ("Walking" would refer to
our usual practices. It would refer to the direction of our life. God tells us
that we need to make a mental decision to avoid these things that cause our
minds to be involved in impurity, lust, evil desires and greed.) Alkitab Bahasa
Indonesia Sehari-hari menulis frase Kolose 3:7 ini dengan “…’menuruti’
keinginan-keinginan hati.” Bagaimana kita dapat hindar dari ‘menuruti’
dosa-dosa pikiran ini? (“Menuruti” merujuk kepada tindakan yang biasa kita
lakukan. Hal ini merujuk kepada arah hidup kita. Allah mengatakan bahwa kita
perlu mengambil keputusan mental untuk menghindari hal-hal ini yang menyebabkan
pikiran kita terlibat dalam kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan
keserakahan.)
3.
Sekarang ini pornografi
di Internet sudah menjadi bisnis besar. Bagaimana jika saudara sedang melihat
gambar seorang wanita (atau pria) yang tidak saudara kenal, tidak ada
kemungkinan untuk bersentuhan (apalagi berbuat lain), dan saudara telah
menetapkan dalam benak untuk tidak berpikir tentang melakukan hubungan sex
dengan orang di gambar tersebut. Apakah hal ini oke-oke saja atau dosa? (Jika
saudara berkata oke-oke saja, saudara kehilangan inti dari pelajaran ini. Dosa
diawali dengan berjalan pada sisi yang salah. Tatkala Kolose mengatakan agar
kita “mematikan” “kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat” dan jangan “menuruti
keinginan-keinginan itu”, ia mengajar kita bahwa kita perlu sepenuhnya
menghindari hal-hal yang membangkitkan nafsu jahat.)
3.
Baca Kolose 3:12-14.
Tatkala Alkitab mengatakan agar kita “mengenakan” sikap-sikap mental ini,
adakah ini merupakan jawaban praktis tentang bagaimana mengarahkan pikiran kita
(Kolose 3:1) kepada “perkara-perkara yang di atas?”
1.
Bagaimana caranya
saudara “mengenakan” sikap mental yang benar?
4. Karena kita sementara melihat kepada sisi praktis dari menjadikan Allah Tuhan atas Pemikiran kita, dapatkan kita merubah pemikiran kita? Dapatkah kita mengganti “pakaian” mental kita?
1.
Apa langkah yang paling
menentukan dalam merubah pemikiran kita? (Baca Filipi 4:8. Apa yang kita
letakkan dalam benak kita mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat bagi alam
pikiran kita. Jika saudara menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca
Stephen King daripada membaca Alkitab, tak ragu lagi saudara telah mengenakan
pakaikan mental yang salah – titik.)
2.
Apa sumber pokok untuk
menjadikan Allah Tuhan atas pemikiran Kita? (Baca Titus 3:5. Kita bertanggung
jawab atas keputusan di mana kita mau mengarahkan pikiran kita kepada
perkara-perkara yang di atas dan menuruti jalan Allah. Kita membuat keputusan
atas apa yang kita tempatkan dalam benak kita. Tapi, perubahan dalam pikiran
kita adalah hasil dari kuasa Roh Kudus.)
5.
Sobat, perjalanan
kekristenan saudara dimulai dari pikiran saudara. Akankah saudara memutuskan
untuk menjadikan Allah Tuhan atas imaginasi saudara?