(Kejadian 2 & 3; Roma 7 & 9)
Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan: Pelajaran 4
Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Jawaban yang disarankan terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Di Disneyland ada wahana di mana saudara pura-puranya ada di ‘perahu’ yang sangat kecil sekali dan berlayar memasuki mulut seseorang, lalu ke paru-parunya, lalu lebih dalam dan lebih dalam lagi ke dalam sistem sirkulasi. Itulah yang saya rasakan mengenai pelajaran ini. Minggu lalu kita mempelajari bahwa dosa bermula dari pikiran, bukan dari apa yang kita lakukan. Kita berlayar dari tangan ke dalam hati. Minggu ini kita berlayar lebih dalam ke pikiran dan mempelajari keinginan-keinginan kita dan sifat alamiah kita. Mari lompat masuk ke dalam perahu kita dan naikkan layar menuju pokok bahasan tentang keinginan!
1.
Penciptaan Keinginan
1.
Baca Kejadian 2:8-9.
Kita pelajari bahwa Allah menciptakan sebuah taman bagi Adam. Apa gunanya
sebuah taman?
1.
Kegunaan apa yang
disebutkan dalam Kejadian 2:9? (Bahwa pepohonan di dalam taman itu sedap
dipandang dan memberi makanan yang baik)
1.
Mengapa Allah mau
menciptakan pepohonan yang sedap dipandang? Apa perlunya hal tersebut?
2.
Bila dikatakan bahwa
makanan yang Allah ciptakan itu “baik,” apakah saudara mengartikannya sebagai
lezat? (Walau kata yang diterjemahkan “baik,” berarti baik di semua hal, saya
percaya bahwa itu lezat untuk alasan sederhana bahwa Allah menciptakan dalam
kita kesanggupan untuk mengecap rasa.)
2.
Baca Kejadian 2:21-24.
Menurut saudara bagaimana rupa Hawa? Cantik atau tidak? (Sulit dipercaya
bahwa Allah yang menciptakan pepohonan (Kejadian 2:9) yang sedap dipandang
lantas menciptakan seorang perempuan yang tidak sedap dipandang.)
1.
Bila disebutkan bahwa
Adam dan Hawa menjadi “satu daging,” merujuk kepada hal apakah itu? (Merujuk
kepada proses mempunyai anak.)
2.
Mengapa Allah
menjadikan proses terciptanya anak-anak sebuah hal yang menyenangkan?
3.
Apa kita sedang melihat
sebuah pola di sini? Allah menciptakan lingkungan yang sedap dipandang, makanan
yang baik untuk dimakan dan suatu metode reproduksi yang sangat menyenangkan.
(Polanya adalah bahwa Allah menciptakan kesenangan bagi manusia.)
1.
Apa yang hal ini
ajarkan kepada kita tentang Allah dan keinginan? (Bahwa Allah menciptakan
keinginan dalam diri kita.)
1.
Akankah lebih baik jika
Allah menciptakan makanan tanpa rasa dan sex tanpa kesenangan? (Kita akan jadi
lebih langsing – dan manusia akan lebih sedikit jumlahnya. Tapi kehidupan
tidak akan sama.)
2.
Keinginan dan
Terciptanya Dosa
1.
Baca Kejadian 3:1-3.
Mengapa sang ular meminta Hawa mengulangi apa yang Allah telah katakan?
(Tebakan saya adalah ia tidak ingin nanti ada perdebatan tentang apa yang
diperbuat Hawa. Ia tidak ingin Hawa menyatakan bahwa dirinya tersandung dan
tanpa sengaja menggigit.)
2.
Baca Kejadian 3:4-5.
Apa sanggahan Setan untuk tidak mematuhi Allah? (Bahwa Allah ingin mencegah
Hawa menjadi sama seperti Allah. Bahwa jika ia makan maka ia akan mengetahui
hal-hal yang diketahui Allah.)
3.
Baca Kejadian 3:6.
Mengapa Hawa makan buah tersebut? Apa karena lapar? Keinginannya akan makanan?
(Klaim bahwa Hawa berdosa kerena selera makannya tidak logis bagi saya. Ia
dikelilingi oleh pepohonan dengan buah-buah yang baik. Bukanlah makanan yang
membuatnya berdosa, tapi keinginannya untuk menjadi sama dengan Allah.)
1.
Kalau saya betul bahwa
bukanlah selera makan yang menyebabkan Hawa berdosa, lantas mengapa Kejadian 3:6
mengatakan bahwa buah pohon itu “baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya?”
(Apa saudara pikir Setan akan mengulurkan apel yang bulukan dan berulat?
Mestilah yang mengundang.)
4.
Mari kita mundur
sejenak. Kita ketahui bahwa Allah menciptakan keinginan di dalam diri kita
sebagai hal yang baik. Bagaimana Setan menggunakan keinginan manusia dalam
cerita ini? (Ia menggunakan keinginan kita untuk membuat kita tertarik pada
dosa.)
1.
Apa yang hal itu
ajarkan pada kita tentang dosa dan keinginan? (Keinginan bukanlah dosa.
Keinginan adalah alat yang digunakan oleh Setan untuk menarik kita kepada
dosa. Masalahnya adalah apakah objek dari keinginan kita itu pantas. Di
sekolah hukum, saya diajar bahwa langkah paling penting untuk menyelesaikan
secara benar sebuah pertikaian hukum adalah dengan menetapkan masalahnya.
Masalah dalam cerita Hawa ini bukanlah selera makan. Kalaupun demikian,
saudara dapat berkilah bahwa keinginan itu sendiri adalah dosa. Sebaliknya,
masalahnya adalah apakah seseorang dapat menggunakan rencananya sendiri untuk
menjadi seperti Allah. Itulah problema yang sama sejak kejatuhan Setan hingga
kini dalam soal memperoleh kebenaran.)
3.
Lebih Dalam kedalam
Keinginan
1.
Baca 1 Petrus 1:13-16.
Sejauh ini kita telah pelajari bahwa Allah menciptakan keinginan dan keinginan
tersebut tidak dari sononya baik atau jahat. Bagaimana
kita mencocokkan kesimpulah tersebut dengan pernyataan Petrus tentang keinginan
“jahat”? Salahkah kesimpulan kita? (Jika saudara memperhatikan keempat ayat
ini tampaknya tema keseluruhannya adalah menetapkan tujuan yang tepat.
Tetapkanlah untuk jadi suci. Ini menyiratkan bahwa jika tujuan kita salah,
keinginan kita jahat. Jika tujuan kita tepat, keinginan kita tepat.)
1.
Apa yang hal ini
nyatakan tentang hubungan antara pikiran dan keinginan? (Dalam menelusuri garis
dosa, kita mulai dari tangan, ke hati ke keinginan. Keinginan didapat oleh
menggali lebih dalam daripada pemikiran. Petrus mengemukakan bahwa pemikiran
kita, tujuan yang kudus, pembelajaran yang kudus mengendalikan keinginan kita
yang lebih dalam.)
2.
Baca Roma 7:7. Masih
ingat minggu lalu kita mendiskusikan bahwa perintah melarang mengingini adalah
sebuah pengakuan bahwa dosa dimulaikan di otak? Menurut saudara mengapa Paulus
memilih perintah tersebut dari yang lainnya untuk digunakan sebagai sebuah
ilustrasi? (Kegagalan di bagian pikiran menuntun kepada pelanggaran perintah
lainnya. Paulus mengajar kita bahwa hukum sangat penting untuk menolong kita
belajar tentang dosa jenis ini.)
3.
Baca Roma 7:8. Apa
Paulus tidak sepakat dengan Petrus? Jika kita pahami betul yang Petrus katakan
bahwa pikiran kita mengendalikan keinginan kita, bagaimana bisa Paulus
mengajarkan bahwa mengendalikan pikiran kita (mengetahui kita tidak boleh
mengingini) membuahkan segala jenis keinginan jahat? Apakah keinginan jahat
dihasilkan oleh pemikiran baik? Apakah keinginan jahat dihasilkan oleh
pengetahuan bahwa kita harus memikirkan yang baik?
1.
Pernahkah saudara
melihat tanda yang melarang saudara melakukan sesuatu yang membuat saudara berpikir
untuk melakukan hal tersebut? Contoh, saudara melihat sebuah plang di kamar
mandi yang menyebutkan, “Dilarang mencoret dinding.” Apa hal tersebut membuat
saudara ingin mencoret dinding? (Biasanya, saya tidak pernah terpikir untuk
menulisi dinding kamar mandi. Saya berada di kamar mandi untuk hal lain di
luar tulis-menulis. Namun peringatan tersebut membuat saya memikirkan apa yang
orang lain telah tuliskan di dinding dan keseluruhan persoalannya. Paulus
berkata bahwa diberitahu untuk tidak melakukan suatu hal membuat kita berpikir
untuk melakukan hal tersebut.)
4.
Mari kita baca lebih
lanjut. Baca Roma 7:18-21. Di sini Paulus mengatakan ia memiliki keinginan
yang baik, pemikiran yang baik, namun tindakan yang salah. Haruskan kita
memutuskan bahwa kesimpulan dari pelajaran yang telah kita telaah dengan
saksama selama dua minggu ini ternyata salah? Sadarkah kita bahwa pertempuran
melawan dosa ada pada pemikiran, menempatkan perkara yang benar, memiliki
tujuan yang benar, keinginan yang benar, dan tetap tertimbun dengan tindak
dosa? (Paulus menambahkan dua hal yang sangat penting pada pembahasan kita.
Walau kita mengetahui bahwa Allah menciptakan keinginan dalam diri kita dan
keinginan tersebut bersifat netral, setelah Adam dan Hawa semua kita dilahirkan
dengan apa yang disebut Paulus “di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu
yang baik.” Kekuatan yang dahsyat ini mendorong pikiran kita, keinginan kita
dan perbuatan kita ke arah dosa. Bandingkan 2 Petrus 2:10 untuk melihat bahwa
Petrus sepakat dengan hal ini.)
1.
Masih ingat kita mulai
tadi dengan ilustrasi tentang wahana di Disneyland? Sepertinya bila menyangkut
tindakan kita, kita berjalan mulai dari tangan kita, ke hati kita (pikiran) ke
keinginan kita ke sifat alamiah kita yang berdosa. Kita tiba pada sifat
alamiah yang Paulus (juga kita) tidak dapat kendalikan.
2.
Apa solusi atas
problema dari sifat alamiah kita yang berdosa? (Hal penting kedua yang Paulus
utarakan adalah bahwa Allah, dan hanya Allah, yang dapat melepaskan kita dari
sifat alamiah kita yang berdosa.)
1.
Bagaimana kisah Hawa,
kisah kejatuhan manusia, cocok dengan hal ini? (Hawa ingin
menjadi seperti Allah melalui sarananya sendiri. Allah memanggil kita untuk
percaya padaNya. Kita butuh kuasaNya untuk mengalahkan sifat alamiah kita yang
berdosa.)
3.
Baca Roma 9:16.
Bagaimana tulisan Paulus cocok dengan pembahasan kita sejauh ini? Apa ia
sekarang mengatakan bahwa hubungan kita dengan Allah tidak ada urusannya dengan
pemikiran dan keinginan kita? Atau, salahkah kita dalam menyimpulkan bahwa
pikiran dan keinginan kita banyak urusannya dengan hubungan kita dengan Allah?
(Jawabanya, lagi-lagi, adalah “komponen Allah” atas hal-hal. Kita harus
menyadari bahwa semua upaya kita untuk menjadi baik, pun yang terpusat pada
pemikiran kita, semata-mata tidak cukup tanpa kuasa Roh Allah dalam hidup
kita. Hal itu merupakan pengakuan bahwa Allah mempunyai kuasa untuk memberi
pengaruh kepada pilihan kita atas pemikiran yang benar. Mengakui posisi dari
kuasa dan wewenang Allah, juga mengakui bahwa kita berhutang padaNya
dalam soal keselamatan.)
4.
Saudara-saudara yang
terusik dengan ayat ini dapat membaca lebih lanjut (Roma 9:17-18) dan menjadi
lebih terusik. Akankah Allah, karena kuasa yang dimilikinya, berubah-ubah
dalam keputusannya akan keselamatan? Adakah Ia berubah-ubah berkenaan dengan
Firaun? (Jika pun Ia berubah-ubah, kita tidak tidak punya alasan untuk
keberatan. Lihat Roma 9:20-21. Namun demikian, apa yang telah disingkapkan
kepada kita menunjukkan bahwa Allah tidak berubah-ubah dengan Firaun. Jika
saudara bandingkan Keluaran 8 dengan Keluaran 9, saudara akan dapati bahwa
Firaun mengeraskan hatinya kepada Allah karena Allah mengeraskan hati Firaun.)
5.
Sobat, Allah
menciptakan keinginan kita. Ia meminta kita untuk mengarahkan pikiran kita
kepada hal-hal yang akan membangkitkan sebuah keinginan akan hal baik. Tapi,
dalam semua aspek dari perjalanan Kekristenan kita, apakah dalam perbuatan kita
atau dalam tindakan kita, kita harus ingat bahwa kita tergantung sepenuhnya
pada Allah bagi keselamatan kita. Akankah saudara meminta Allah untuk kuasa
tersebut dalam hidup saudara?
4. Pekan depan: Tuhan atas Perkataan Kita