(Mazmur 34, Amsal 12 & 22, Pengkhotbah 5, Yakobus 3)
Kehidupan Rohani – Mengalami Yesus Kristus sebagai Tuhan: Pelajaran 5
Copr. 2005, Bruce N. Cameron, J.D. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Jawaban yang disarankan terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian
Pendahuluan: Inginkah saudara menemukan “obat mujarab bagi hidup? Minggu ini saya berkunjung ke Disneyland dan tema disana adalah menjadi bahagia. Apa saudara sedang mencari kehidupan yang bahagia? Siapa sih yang tidak? Untuk sejenak saja saya ingin saudara mengingat kembali saat-saat paling memalukan dan tidak menyenangkan dalam hidup saudara. Apakah kata-kata saudara (atau kata-kata orang lain) punya andil dalam menciptakan keadaan memalukan yang saudara alami? Bisa jadi. Pelajaran kita minggu ini memandang kepada bagaimana penyampaian kata-kata kita kepada Allah meningkatkan kualitas hidup kita. Mari kita mulai!
1. Hidup yang Mengasihi
1.
Baca Mazmur 34:13.
Apakah saudara merupakan bagian dari “siapakah” ini?
2.
Baca Mazmur 34:14 dan 1
Petrus 3:10. Sebagaimana yang bisa saudara lihat, Petrus mengulangi rumusan
yang Allah pertama kali inspirasikan kepada Raja Daud.
1.
Menurut saudara apa
arti “menjaga lidah terhadap yang jahat”
1.
Kata penting pertama
adalah “jaga.” Apa yang terkandung dalam kata ini? (Kata ini mengandung arti
bahwa kecenderungan alamiah dari lidah kita adalah berkata jahat. Kita perlu
melawan kecenderungan tersebut.)
2.
Apa kira-kira “lidah
jahat” itu? (Menyerang seseorang dengan kata-kata saudara. Menggunakan bahasa
untuk mendapatkan keuntungan yang tidak adil atas orang lain.)
2.
Bagian kedua dari
petunjuk ini sangat lugas: jangan berdusta.
3.
Adakah saudara
membiasakan diri untuk berhati-hati atas apa yang saudara katakan tentang orang
lain?
3.
Mengapa berkata jahat
dan berdusta menjadi hal pertama yang Daud dan Petrus sebutkan berkenaan dengan
memperoleh hidup bahagia? (Perkataan kita dapat menciptakan berbagai kesulitan
bagi kita.)
1.
Baca 1 Petrus 3:8-9.
Mundur satu ayat membantu kita lebih mengerti alur logika Petrus. Hubungan apa
yang Petrus lihat antara perkataan kita dan kualitas hidup kita? (Petrus
melihat bahwa perkataan kita adalah suatu faktor penting dalam menciptakan
keselarasan dalam hidup kita.)
2.
Apakah keselarasan
senantiasa merupakan hal yang baik? Semasa muda saya bekerja di perusahaan
konstruksi. Saya melihat beberapa atasan yang sok kuasa dan saya
bertekad untuk tidak memperlakukan siapapun ‘di bawah saya’ seperti itu di
tempat kerja. Bertahun-tahun kemudian, seorang yang sok kuasa bergabung
dalam perusahaan tempat saya bekerja. Ia semena-mena terhadap karyawan ‘di
bawah’-nya. Karena tidak setuju dengan hal begini tapi saya bukan atasannya,
saya mengatakan hal-hal yang konyol dan mencemooh orang ini di hadapan
karyawan yang teraniaya. Karyawan yang teraniaya menyukai hal ini dan diam-diam
menyampaikannya kepada saya. Apakah tindakan saya pantas? (Tidak. Dalam 1
Petrus 3:9 Petrus mengatakan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan atau
caci maki dengan caci maki. Seharusnya saya bicara dengannya soal masalah yang
terjadi atau menunjukkan kepadanya cara yang lebih baik dalam memperlakukan
para bawahan. Nyatanya, saya berlaku serupa dengan dia.)
4.
Baca Amsal 22:11. Apa
artinya “mencintai kesucian hati?” (Seseorang dengan motif yang murni.)
1.
Apa artinya “manis
bicara?” (Kata-kata yang baik dan berguna.)
2.
Mengapa seorang raja
mau berteman dengan seseorang seperti ini? Bukankah orang yang berkuasa ingin
dikelilingi oleh orang berkuasa? Mengapa seorang raja peduli soal manis
bicara? (Raja mengetahui bahwa orang ini akan baik terhadapnya. Raja rindu
untuk mempunyai orang-orang yang tidak berbahaya di sekitarnya.)
1.
Akankan nasihat ini
berlaku di pekerjaan saudara? Dapatkan saudara menggantikan kata “raja” dengan
“atasanmu?” (Ya. Jika saudara ingin untuk menjadi sahabat dari atasanmu,
saudara perlu memiliki motif yang murni serta mengucapkan perkataan yang baik
dan berguna.)
2.
Diluputkan oleh Lidah
1.
Baca Amsal 12:6. Dalam
cara bagaimana perkataan orang jahat dapat “menghadang darah?” (Orang jahat
akan mengucapkan hal-hal yang dimaksudkan untuk melukai orang lain.)
1.
Pernahkah saudara
dapati perkataan orang benar meluputkan orang tersebut?
1.
Jika ya, bagaimana?
(Kalau apa yang saudara ucapkan di masa lalu telah membangun reputasi bagi
saudara dalam hal kejujuran dan kebaikan kepada orang lain, orang akan
cenderung percaya kepada saudara dan tidak mempercayai orang-orang yang coba
menyakiti saudara dengan perkataan mereka.)
2.
Komentar Alkitab dari
Matthew Henry menafsirkan ayat ini secara berbeda. Ia mengemukakan bahwa orang
benar dapat meluputkan orang-orang yang menjadi korban orang jahat oleh
berbicara mewakili orang-orang yang menjadi korban ini. Apakah ini bagian dari
cara seorang Kristen seharusnya berbicara?
1.
Kewajiban jenis apa
yang kita punyai untuk berbicara atas nama mereka yang menjadi korban dari
orang jahat?
3.
Kecerdasan dan Lidah
1.
Baca Pengkhotbah 5:2.
Bagaimanakah kesusahan saudara berpengaruh pada jumlah mimpi saudara? (Bila
kita mencemaskan sesuatu, kita sering memimpikannya. Lebih cemas, lebih banyak
mimpi.)
1.
Dengan apakah perkataan
orang bodoh itu dibandingkan? (Sebuah mimpi.)
2.
Persamaan apa yang
dibuat antara kesusahan dan perkataan? (Jika saudara mempunyai banyak kesusahan
saudara memiliki banyak mimpi. Jika saudara memiliki banyak perkataan, saudara
mungkin seorang bodoh.)
1. Sudahkan saudara dapati bahwa hal ini benar berlaku dalam hidup saudara? (Karena satu dan lain hal, orang bodoh senang mendengar dirinya sendiri berbicara. Sebaiknya mereka berdiam diri agar orang lain tidak bisa memastikan bahwa mereka bodoh.)
2.
Baca Pengkhotbah 5:1.
Apa ayat ini merujuk kepada doa kita? Termasuk doa di muka umum?
1.
Di gereja kita ada
waktu untuk lagu pujian dan doa. Semua orang tahu, namun sering hal ini sering
molor sampai ke waktu khotbah. Sebenarnya waktu tidak terlalu banyak
disita oleh orang yang berdoa dibanding dengan orang yang memberikan ‘khotbah
mini’ non-formal dihadapan jemaat. Pelajaran apa yang kita dapati dari ayat
ini bagi mereka yang senang memberikan khotbah non-formal dan dadakan?
4.
Perkataan dalam
Tindakan.
1.
Baca 1 Tim 4:12.
Ketika Paulus memberikan petunjuk kepada Timotius tentang pelayanannya, kita
dapati ia memberitahu Timotius untuk menjadi teladan dalam beberapa bidang. Bidang
pertama di mana ia harus menjadi contoh adalah dalam perkataannya. Menurut
saudara, mengapa Paulus pertama-tama menyebutkan perkataan? (Penelitian
menunjukkan bahwa tatkala saudara pertama bertemu seseorang, saudara membentuk
kesan tentang mereka dalam beberapa menit pertama. Menurut apa yang saya baca,
waktunya adalah 90 detik pertama. Kebanyakan dari kesan ini didasari atas apa
yang kita ucapkan dan cara kita mengucapkannya. Jika tujuan kita adalah
mempengaruhi orang untuk datang kepada Kristus, kita perlu untuk waspada
terhadap kesan yang kita ciptakan lewat perkataan kita.)
2.
Baca Titus 2:7-8.
Apabila saudara mengajarkan Alkitab, perkataan saudara jelas penting. Walau
kebanyakan saya tidak menuliskan kalimat humor dalam materi saya, ketika membawakan
pelajaran tersebut saya menggunakan humor. Salahkah hal ini? Apa yang Paulus
maksudkan ketika ia memberitahu kita untuk mengajar dengan perkataan yang
sungguh-sungguh dan sehat? (Sebagai ganti kata ‘sungguh-sungguh’, the
Living Bible menulis “you are in dead earnest about it” Saya pikir
kalimat ini menekankan makna, Firman Allah bukanlah lelucon. Namun, humor
membantu mengikat perhatian hadirin. Apabila saudara mengemukakan pendapat
alkitabiah, murid-murid saudara harus mengerti bahwa saudara sungguh-sungguh
dalam mengemukakannya.)
3.
Baca Yakobus 3:3-5.
Mengapa lidah kita diperbandingkan dengan kendali atau kekang? (Kendali atau
kekang mengendalikan tubuh yang lebih besar.)
1.
Adakah Yakobus
mengatakan bahwa lidah kita mempengaruhi kita? (Sepertinya itulah tepatnya
yang ia sedang utarakan.)
4.
Baca Yakobus 3:6. Apa
yang terdapat di dalam kuasa perkataan kita? (Yakobus ajarkan bahwa perkataan
kita dapat menlukai kita.)
1.
Mengapa demikian?
(Kita dipengaruhi oleh apa yang kita dengar. Ellen White dalam bukunya
Kerinduan Segala Zaman (hal 345-346) mengemukakan bahwa tatkala dicobai, kita
terkadang mengatakan hal-hal yang kita tidak benar-benar yakini. Namun
demikian, sekedar menyatakan sesuatu yang tidak kita yakini menolong untuk
memeteraikannya dalam pikiran kita. Kita dapat tiba pada titik di mana kita
mempercayai sesuatu yang awalnya tidak kita percayai – hanya karena kita
terus-terusan menguatkannya oleh perkataan kita.)
5.
Baca Mazmur 9:2-3
Berkat-berkat apa yang datang kepada kita dari memuji Allah sebagaimana yang
Daud lakukan? (Ini adalah cara lain di mana perkataan kita membantu merubah
pemikiran kita, memperkuat kasih kita terhadapa Allah.)
6. Sobat, perkataan seorang Kristen ternyata merupakan hal yang sangat penting dalam melayani Allah. Maukah saudara berdoa hari ini untuk menjadikan perkataan saudara tunduk kepada kehendak Allah?