<-- The Sin Against the Holy Spirit

Dosa Terhadap Roh Kudus
(Matius 22, Markus 3, Roma 14)
Roh Kudus: Pelajaran 12

 

Copr. 2006, Bruce N. Cameron. Semua referensi Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru Ó1974 Lembaga Alkitab Indonesia, kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian

 

Saudara terus-menerus membuat keputusan. Saat membuat keputusan tersebut saudara tidak sekedar mengatakan “ya” atau “tidak,” terkadang saudara berkata “Betul,” “ini akan membuat saya terkenal,” “ini akan menjadikan saya kaya,” atau “ini bisa jadi bencana.” Minggu ini kita bahas bencana terburuk yang bisa dibayangkan yang terdapat dalam sebuah keputusan. Kita membahas bagaimana kita dapat memilih untuk melakukan dosa “tak terampuni.” Apakah ini hal yang mungkin? Mari selami Alkitab dan temukan jawabannya!

 

1.      Bisakah suatu Dosa Tak Terampuni?

1.      Baca 1 Timotius 1:15. Jika orang yang “paling berat” dosanya dapat diampuni, maka tak akan ada “dosa tak terampuni,” bukan? Jika ada dosa “lebih berat”, yakni dosa yang “tak terampuni,” maka Paulus (sang penulis) tidak akan menjadi orang yang “paling berat” dosanya, bukan?

1.      Ataukah Paulus sekedar bergurau ketika menyebut diri orang paling berdosa?

2.      Baca Matius 12:31-32. Dosa apa yang Jesus sebut tidak dapat diampuni? (Berbicara menentang Roh Kudus.)

1.      Ayat ini mengatakan bahwa kita dapat berbicara menentang Yesus dan diampuni, namun kita tidak dapat berbicara menentang Roh Kudus dan diampuni. Karena keduanya adalah Allah, karena keduanya merupakan bagian dari Trinitas, bagaimana hal ini bisa diterima akal? (Secara logika, masalahnya tidak pada keberadaan atau status Yesus atau Roh Kudus. Mereka berdua sama derajatnya. Jadi tidak akan ada masalah jika kita berbicara menentang Roh Kudus karena Ia adalah Allah. Mestinya ada esensi lain dari Roh Kudus yang menjadi permasalahan.)

2.      Dosa Tak Terampuni

1.      Coba tengok konteks dari pernyataan Yesus untuk mendapatkan “esensi lain” dari Roh Kudus ini yang menjadi permasalahan. Baca Matius 12:22-23. Apa yang dimaksud orang-orang ketika mereka mengatakan, “Ia ini agaknya Anak Daud.?” (Maksudnya Yesus bisa jadi adalah Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu.)

2.      Baca Matius 12:24. Jawaban apa yang diberikan oleh orang Parisi menjawab pertanyaan apakah Yesus bisa jadi adalah Mesias? (Ia bukanlah Mesias karena ia menggunakan kuasa Setan dan iblis-iblisnya.)

3.      Baca Matius 12:25-28. Argumen logis apa yang Yesus utarakan? Apa inti argumenNya? (Bagaimana Setan bisa berhasil kalau merusak pekerjaannya sendiri? Hal ini tidak mungkin terjadi dan tidak masuk akal. Karenanya, jawaban logisnya adalah Sayalah Mesias itu.)

4.      Baca Matius 12:29. Siapakah “orang kuat” itu? Siapakah sang “perampok?” (Setanlah orang kuat itu dan Yesuslah sang “perampok!”)

1.      Apa yang “dirampas” Yesus? (Ia mengambil jiwa-jiwa dari Setan. Saudara mungkin tidak pernah berpikir seperti ini. Perhatikan bahwa agar dapat mengalahkan Setan, saudara harus mengikatnya. Pernahkah saudara mohon agar Allah mengikat kuasa Setan?)

5.      Baca Matius 12:30-32. Satu-satunya perkataan yang saya baca adalah ihwal menentang Yesus. Apakah saudara membaca adanya serangan terhadap Roh Kudus? Apa yang Yesus sedang bicarakan?

6.      Baca Markus 3:28-30. Bagaimana tulisan Markus menjelaskan soal serangan terhadap Roh Kudus? (Markus menjelaskan pada kita bahwa pembicaraan Yesus mengenai dosa yang tak dapat diampuni yakni hujat terhadap Roh Kudus dikarenakan pemuka-pemuka Yahudi menyebutkan kuasa Roh Kudus sebagai kuasa Setan.)

1.      Menurut saudara apakah pemuka-pemuka Yahudi dalam cerita ini telah melakukan dosa yang tak dapat diampuni? Apakah Yesus sedang mengumumkan kutukan kekal bagi mereka?

3.      Logika Dosa Tak Terampuni

1.      Jika saudara memutuskan bahwa pemuka-pemuka Yahudi telah melakukan dosa yang tak dapat diampuni oleh berkata (Matius 12:24) atau bahkan berpikir (Matius 12:25) bahwa “Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan” – maka saudara perlu berhati-hati dalam perkataan dan pikiran saudara. Apakah demikian? Saudara terpeleset kedalam pikiran salah dan, wow, saudara telah melakukan dosa pikiran yang tidak dapat diampuni? Satu kata salah dan tamatlah saudara?

2.      Mari kita keluar dari konteks cerita dalam Matius 12. Saya sedang membaca sebuah buku Kristen tentang “Boundaries [Batas].” Salah satu pendapat menarik dalam buku ini adalah bahwa kita dapat memiliki kata hati yang “salah bentuk” sedemikian rupa sehingga kata hati kita membuat kita mengira bahwa suatu hal adalah dosa padahal tidak. Mungkinkah hal ini? Ataukah kata hati kita adalah Roh Kudus yang berbicara pada kita? Jika kata hati kita adalah Roh Kudus, maka hampir tidak mungkin “salah-bentuk.”

1.      Baca Roma 14:22-23. Keseluruhan Roma pasal 14 dicurahkan untuk membahas apa yang kita harus perbuat jika kata hati kita tidak terusik oleh suatu hal yang mengusik kata hati orang lain. Ajaibnya, Paulus menyebut orang yang terusik oleh kata hatinya sebagai “lemah” iman dan mereka yang tidak terusik oleh kata hatinya sebagai kuat dalam iman. Menurut saudara siapa atau apa yang yang mengusik kata hati orang Kristen yang “lemah” iman? Roh Kudus atau Setan?

2.      Baca Roma 14:1. Perkara macam apa yang sedang Paulus bicarakan dalam Roma 14? (Ini adalah pokok yang tidak boleh dilewatkan: Paulus menulis tentang “hal yang dapat diperselisihkan.” Menurut saya buku “Boundaries” benar juga – kita bisa memiliki kata hati di mana bukan Roh Kudus yang berbicara pada kita.)

3.      Jika Roh Kudus tidak berbicara pada kita, maka secara logis hal ini menambah dukungan pada kesimpulan bahwa iblis yang berbisik di telinga kita menyuruh kita jangan melakukan suatu hal yang Allah ijinkan. Baca Roma 14:5-7. Apakah menurut pandangan saudara orang Kristen yang “lemah iman” (Roma 14:1) sedang dituntun oleh iblis? (Jika iblis yang menuntun orang yang lemah iman sulitlah diterima bahwa Paulus akan menuliskan bahwa orang yang lemah iman “melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah.” Ini membawa kita kembali pada argumen Yesus dalam Matius 12 bahwa Setan tidak akan merusak pekerjaannya sendiri.)

4.      Pikirkan bahasan yang baru saudara dapatkan. Pikirkan apa yang ada di benak saudara. Mungkinkah saudara sedang menapaki landasan yang sama dengan yang ditapaki oleh pemuka-pemuka Yahudi dalam Matius 12? Mungkinkah saudara sedang berdebat dalam benak saudara jika perbuatan Roh Kudus bisa jadi adalah perbuatan Setan dan para iblisnya?

1.      Apakah saudara “tersandung” dalam memikirkan dosa yang tidak dapat diampuni?

3.      Baca Yohanes 16:7-8. Ini adalah ulangan dari apa yang telah kita pelajari di pelajaran-pelajaran terdahulu dalam seri ini. Apa salah satu pekerjaan utama dari Roh Kudus? (Menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.)

4.      Baca Yudas 1:17-19. Jika seseorang tidak dapat membedakan “insting alami” mereka dengan penginsafan dari Roh Kudus, masa depan rohaniah seperti apa yang mereka hadapi?

5.      Apakah yang terkandung dalam ayat ini mengenai sifat dari dosa yang tak dapat diampuni: apakah berupa satu tindakan? Atau, merupakan sebuah proses yang berlangsung tahap demi tahap dari penolakan suara Roh Kudus sampai saudara tidak lagi dapat membedakan insting alami dengan dorongan Roh Kudus?

1.      Mungkinkah bahwa pada satu titik Roh Kudus akan begitu saja berhenti berkerja dalam diri seseorang?

 

2.      Baca Kejadian 6:3 karena saya tahu kata-kata ini akan tercetus dalam benak saudara sebagai jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Ayat ini sepertinya mengatakan bahwa Roh Kudus tidak akan “selama-lamanya tinggal” dalam diri seseorang. Berapa lamanya Roh Kudus tinggal di dalam hidup manusia? (Seumur hidup orang tersebut! Ayat ini sepertinya mengatakan bahwa Roh Kudus meninggalkan medan pertempuran bagi seorang individu saat orang tersebut meninggal. Setelah meneliti lebih dekat, ayat ini agaknya tidak mengatakan apa yang saudara pikirkan, bukan?)

6.      Baca Ibrani 10:26-29. Ingat pembahasan kita pekan lalu tentang Roma 7:14-24? Bagaimana saudara mempertemukan kedua perikop Alkitab ini? (Paulus mengatakan bahwa ia mendapati dirinya melakukan hal-hal yang tidak ingin ia lakukan. Ibrani mengatakan bahwa jika saudara terus-terusan melakukan dosa maka tamatlah saudara – tidak tersisa lagi pengorbanan untuk menghapus dosa. Sulit untuk menggambarkan dosa Paulus sebagai dosa yang “disengaja.”)

1.      Apakah saudara memiliki dosa yang disengaja?

2.      Perhatikan frasa “yang menghina Roh kasih karunia” dalam Ibrani 10:29. Apa yang dimaksud di sini? (Gambaran dalam buku Ibrani adalah tentang seorang yang menolak mendengarkan Roh Kudus hingga mencapai tingkatan yang disebut hujat. Orang ini dengan sengaja terus melakukan dosa setelah mengetahui kebenaran. Kesimpulannya adalah bahwa dosa yang tak dapat diampuni itu adalah perkara yang disengaja dan terjadi tahap demi tahap. Orang tersebut tiba pada suatu titik di mana ia tidak lagi mendengarkan atau mau mendengarkan Roh Kudus. Pada titik ini mereka telah mengambil keputusan untuk menyeberang kedalam kematian abadi.)

7.      Sobat, maukah engkau berdoa agar terbuka bagi Roh Kudus? Maukah engkau menetapkan untuk memiliki “hati lembut” yang mencari kehendak Allah dan rindu melakukan kehendakNya?

  1. Pekan depan: Roh Kudus pada Hari-Hari Terakhir.