Tantangan Perkataan-Nya
(Matius 19 & 20)
Yesus yang Ajaib: Pelajaran 6
Copr.
2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pernahkah saudara
berangan-angan bahwa Allah duduk di samping saudara dan menjelaskan dengan dengan
tepat apa yang menurut-Nya harus saudara lakukan dan apa yang tidak boleh
dilakukan? Tak perlu
lagi merasa ragu. Sekarang saudara tahu! Saya kerap mengangan-angankah hal yang
sama. Terkadang ajaran-ajaran Yesus membingungkan. Di lain sisi, saya sendiri
sadar bahwa terkadang saya menyukai adanya ambiguitas. Dengan demikian saya
dapat melakukan apa yang saya inginkan dan terus menipu diri sendiri dengan mengatakan
bahwa saya sementara melakukan kehendak Allah. Pekan ini kita akan mempelajari
beberapa perkataan Yesus, yang jika kita pahami dengan benar, akan membuat kita
tertantang kepada tingkat ketaatan dan kepercayaan yang sangat tinggi.
- Perceraian
- Baca Matius
19:3. Apakah menurut saudara ini merupakan sebuah ujian bagi Yesus?
Bukankah lebih wajar jika Ia mengatakan, “Tentu saja kamu tidak bisa
menceraikan istrimu untuk alasan apapun!” (Ada dua paham yang dianut oleh
kamu Farisi. Paham Hillel yang liberal mengajarkan bahwa seseorang bisa
menceraikan istrinya dengan alasan-alasan yang sepele: seperti sarapan
yang hangus. Paham Shammai yang konservatif mengajarkan bahwa saudara
hanya bisa menceraikan isteri yang berlaku tidak sopan atau berbuat tidak
senonoh.)
- Baca
Matius 19:4-6. Apakah Yesus mengesahkan salah satu dari kedua pandangan
yang berlaku di kalangan petinggi Yahudi? (Yesus mengatakan bahwa contoh
yang benar adalah perkawinan untuk seumur hidup.)
- Baca
Matius 19:7. Apakah Musa, yang dituntun Allah, mengijinkan perceraian?
(Baca Ulangan 24:1-4. Inilah yang menjadi sumber dari kedua paham yang
dianut bangsa Yahudi. Logikanya, perbuatan “tidak senonoh” adalah sesuatu
yang lebih ringan dari hubungan sex di luar nikah atau perzinahan, karena
hukumannya adalah kematian bukan sekedar diceraikan. (Ulangan 22:13-22)
- Baca
Matius 19:8. Musa tidaklah mengada-ada. Ia menulis atas inspirasi dari
Allah. Bagaimana cara Yesus menjelaskan perbedaan antara apa yang Ia
(Allah) katakan secara langsung dan apa yang Allah katakan melalui Musa?
(Ia mengatakan Allah mengakomodir hati manusia yang berdosa. The
Wycliffe Bible Commentary mengatakan bahwa hukum Musa merupakan
“perlindungan bagi para istri dari ulah suaminya, bukan sebagai
pengesahan bagi suami untuk menceraikan istri sekendak hati.”)
- Coba
kita renungkan sejenak akan hal ini. Apakah peraturan bisa dibengkokkan? Apakah Allah
yang adil berkompromi dengan dosa?
- Jika
ketegaran hati dapat dijadikan alasan, apakah orang-orang yang tegar
hati sekarang ini bisa diampuni?
- Baca
Matius 19:9. Apakah yang dikatakan Yesus mengenai perceraian yang bukan
karena “tidak setia dalam perkawinan?” (Kata Gerikanya kerap
diterjemahkan dengan “pelanggaran susila seksuil.”) (Yesus menyebutnya
perzinahan!)
- Seperti
yang telah kita pelajari, hukuman dari perzinahan adalah kematian. Ini merupakan salah satu
dari Sepuluh Hukum (Keluaran 20:14). Yesus menegaskan bahwa
perceraian biasa merupakan problema moral yang besar. Bukankah dosa selamanya
merupakan dosa? Mengapa perceraian “oke-oke saja” di zaman Musa namun
tidak “oke-oke saja” pada zaman Yesus? (Yang saya dapati di sini adalah
kasih karunia. Yesus bukannya tidak menunjukkan sikap tegas terhadap
standar yang ideal. Melainkan Allah menunjukkan kasih karunia terhadap
umat-Nya.)
- Saya
yakin salah seorang dari antara kalian akan berkata, “Sebentar!
Bagaimana dengan kasih karunia terhadap para wanita yang diceraikan
dengan alasan yang sepele?” (Dalam budaya Yahudi hanya lelaki yang bisa
menceraikan. Allah menunjukkan kasih karunia kepada orang berdosa. Wanita-wanita
ini bukanlah orang berdosa dalam konteks ini. Cita-cita Allah adalah
mereka tidak diceraikan oleh suami mereka.)
- Baca
Matius 19:10. Bagaimana saudara merangkumkan reaksi para murid? (Mereka
terkejut. Jika peraturannya demikian ketat, lebih baik tidak kawin.)
- Apa
yang diungkapkan dari kejadian ini mengenai keadaan perkawinan pada masa
itu?)
- Baca
Matius 19:11-12. Menurut saudara apa artinya ayat ini? “Perkataan” mana
yang Yesus maksudkan?
- Apakah
Yesus mengajarkan bahwa orang-orang yang tidak dapat menerima ajarannya
yang tegas mengenai perceraian dapat dibebaskan dari ajaran tersebut?
- Ataukah,
Yesus mengajarkan bahwa hanya orang-orang yang dapat menaati peraturan
tersebut yang bisa menikah? (Jika saudara melihat konteksnya, Yesus mengatakan
hal yang kedua – jangan menikah jika saudara tidak bisa menaati
peraturannya. Para murid langsung saja mengatakan “Lebih baik jangan
kawin.” Yesus kemudian merunut alasan-alasan mengapa seseorang memilih
atau terpaksa tidak menikah.)
- Apakah
pernyataan Yesus ini dapat diaplikasikan secara logis terhadap argumen
bahwa kaum homoseks memang dilahirkan demikian oleh karena itu
perkawinan sejenis merupakan hak alami? (Ya, sekalipun logikanya
tidak sempurna. Yesus mengatakan bahwa beberapa orang terlahir dengan
kendala untuk menikah, yang lain menjadi demikian karena orang lain, dan
yang lain memutuskan demikian untuk menyenangkan Allah. Ada sejumlah
alasan, sebagiannya karena terpaksa, mengapa sejumlah orang tidak
menikah.)
- Uang
- Sekarang
perkara sulit yang lain lagi. Baca Matius 19:16-17. Menurut saudara
apakah Yesus bersungguh-sungguh dalam ucapan-Nya?
- Baca
Matius 19:18-19. Apa yang ganjil dari daftar perintah ini? (Yang didaftarkan
hanya lima dari Sepuluh Perintah dan kemudian ditambahkan “ringkasan”
tambahan.)
- Apa
yang ketinggalan? (Semua bagian dari Sepuluh Hukum yang terkait dengan
kewajiban kita terhadap Allah.)
- Baca
Matius 19:20-22. Menurut saudara apakah orang ini akan masuk surga
jika ia menjual segala yang ia miliki? Apakah dengan demikian ia akan
menjadi “sempurna?”
- Dari
manakah Yesus menemukan “perintah” untuk menjadi sempurna dengan cara “obral
barang?” (Hal ini merangkumkan bagian Sepuluh Hukum yang tertinggal
mengenai kewajiban kita terhadap Allah. Orang muda ini menggantungkan
kesejahteraan dan reputasinya pada kekayaan yang ia miliki. Yesus
mengundangnya untuk bergantung kepada Allah semata.)
- Bagaimana dengan saudara? Kepada siapa atau apa saudara
bergantung?
- Baca
Matius 19:23-25. Murid-muring mengalami hari yang sulit. Mereka mendapati
bahwa mereka diharapkan menikah untuk seumur hidup dan uang merupakan hal
yang buruk. Mengapa mereka terperanjat mendengar pernyataan Yesus mengenai
kekayaan? (Baca
Ulangan 28:1-2, 12 dan Pengkhotbah 10:19. Para murid menguasai Alkitab,
kekayaan adalah berkat dari Allah! Kekayaan merupakan jawaban atas segala
perkara. Yesus menyanggah pemahaman mereka tentang kekayaan.)
- Jika
kekayaan merupakan berkat dari Allah, mengapa sukar bagi orang kaya
untuk masuk ke surga? Bukankah kita seharusnya mengharapkan bahwa semua
orang yang masuk surga itu orang kaya karena kekayaan mencerminkan
berkat dari Allah? (Menurut saya, ini merupakan kuliah yang panjang
tentang keselamatan. Kita tidak diselamatkan karena memelihara hukum.
Penurutan kepada Allah memang membawa berkat dan kekayaan. Namun yang membawa
keselamatan adalah percaya dan kebergantungan kepada Allah. Kekayaan
merupakan cobaan, karena dengannya kita terilhami untuk bergantung
kepadanya bukannya bergantung kepada Allah. Mengapa? Sebagaimana yang
diungkapkan oleh Raja Salomo, “uang memungkinkan semuanya itu.” Hanya
saja, jangan jadikan pernyataan ini sebagai jawaban saudara!)
- Baca
Matius 19:27. Petrus berkata, “Tuhan, kami sudah lulus dari ujian
tersebut!” “Apa
yang akan kami peroleh?” Apa yang kita peroleh dengan bergantung kepada Allah? (Baca
Matius 19:28-29. Kata Yesus kita akan memperoleh surga, tahta, kemuliaan
dan investasi kita akan dikembalikan 100 kali lipat.)
- Matius
19:30. Apa arti ayat ini? Apakah berarti bahwa orang yang memiliki
kekayaan dan tampil terdepan di atas dunia ini akan menjadi yang
terakhir?
- Pekerjaan
- Kita
akan beralih pada kisah selanjutnya. Baca Matius 20:1-2, 9-15. Apakah
kini Yesus menganjurkan pengupahan yang tidak adil?
- Baca Matius 20:16. Apakah inti dari kisah ini?
- Pernahkah
kita membaca inti ini sebelumnya? (Ya. Matius 19:30)
- Jika
demikian, bagaimana penerapannya? Mengapa cuma karena terlambat bangun
maka saudara mendapat upah?
- Mari kita meninjau kembali kedua cerita ini.
- Apakah orang kaya tersebut mengira bahwa ia dapat masuk ke
surga oleh melakukan suatu hal? (Ya. Matius 19:16 “Apakah yang harus kuperbuat…”)
- Yesus
memperlihatkan bahwa perbuatannya tidak akan cukup.
- Apakah
murid-murid mengira bahwa mereka dapat masuk surga oleh perbuatan
mereka? (Ya.
Matis 19:27: Kami telah melakukan segalanya, apa upah yang kami dapat?)
- Apakah
yang diceritakan oleh perumpamaan para pekerja tentang hubungan antara
usaha kita dan upah yang akan kita terima? (Tidak ada!)
- Apakah
yang sama-sama dilakukan oleh semua pekerja? (Sepakat untuk bekerja saat
diminta bekerja.)
- Apakah
perumpamaan ini memberi terang pada ajaran Allah tentang perkawinan?
(Cita-cita Allah sangat gamblang: Menikah seumur hidup, tidak ada
perceraian. Namun, pernikahan seumur hidup tidak akan membawa kita ke
surga.)
- Apa
yang membawa kita ke surga? (Sambutan kita atas undangan Yesus. Bertobat
dan datang. Surga merupakan pemberian Yesus.)
- Bagaimana
caranya memperoleh pemberian ini? (Inilah arti dari ungkapan “yang
terdahulu akan menjadi yang terakhir.” Penguasa muda tersebut terbiasa
menjadi “lebih baik” karena uangnya. Para pekerja biasa dibayar
lebih oleh karena kerajinan mereka. Bukan begitu cara bekerjanya kerajaan
Allah. Semakin kita tidak bergantung kepada diri sendiri, semakin besar
kemungkinan kita bergantung kepada Allah.
- Sobat,
maukah engkau menerima tantangan untuk bergantung kepada Allah? Maukah
engkau mengupayakan agar kemurnian hidupmu dapat menjadi teladan yang
sempurna?
- Perilakunya
yang Membingungkan