Perilaku-Nya yang Membingungkan
(Matius 3, Matius 8 & 11)
Yesus yang Ajaib: Pelajaran 7
Copr.
2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Pernahkah saudara bertemu seorang pemimpin rohani yang cara kerjanya tidak
sesuai dengan gaya saudara? Apakah ada gagasan yang baru dalam perbaktian yang membuat saudara
tidak nyaman? Pelajaran kita pekan ini adalah mengenai beberapa perilaku Yesus
yang begitu membingungkan. Ada banyak orang yang menjadi marah. Apabila kita
menjadi marah terhadap perbuatan pemimpin rohani kita, bagaimana kita tahu
siapa yang benar-benar melakukan kehendak Allah? Bagaimana kita tahu kapan harus
berbicara dan kapan harus berdiam diri saja? Mari mulaikan pelajaran kita dan
temukan jawabannya dalam Alkitab!
- Bekerja
di hari Sabat
- Baca
Markus 3:1-2. Apa yang menyebabkan para pemimpin Yahudi mengira bahwa
Yesus akan mengadakan penyembuhan pada hari Sabat?
- Baca
Markus 3:3. Para pemimpin Yahudi mengira bisa “menangkap” Yesus melakukan
dosa atau paling tidak sedang melakukan sesuatu yang akan dianggap orang
melakukan dosa. Bagaimana Yesus bereaksi terhadap hal tersebut? (Ia
memanggil orang tangannya lumpuh tersebut ke depan dan berdiri di
tengah-tengah supaya semua mata memandang!)
- Mengapa
Yesus menyoroti sesuatu yang dianggap orang melanggar Sabat
- Baca
Markus 3:4-5. Apakah Yesus sedang memberi pelajaran tentang kemarahan?
Ingat, Yesus sedang berada di “gereja!”
- Dalam
cerita tentang Yesus dan pajak kaabah (Matius 17:24-27), Yesus berkata
“supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka” bayarlah pajak
kaabah dari uang yang diberikan oleh seekor ikan. Yesus bisa
menyembuhkan orang yang lumpuh tangannya tersebut keesokan harinya. Mengapa menjadi
batu sandungan bagi para pemimpin Yahudi? (Pikirkan logika dari situasi
ini. Sampai Yesus menjadi marah, tentunya karena menurut-Nya para
pemimpin Yahudi melalaikan prinsip yang nyata dari Kerajaan Allah. Prinsip yang nyata tersebut
perlu diangkat di depan umum.)
- Apakah
yang Yesus ajarkan kepada kita tentang pemeliharaan hari Sabat. “Prinsip
nyata” apa yang dilalaikan oleh para pemimpin Yahudi? (Melakukan
kebaikan itu sejalan dengan pemeliharaan hari Sabat.)
- Apakah
ada yang dikatakan Yesus yang membuat saudara yakin bahwa Ia tidak
percaya akan pemeliharaan hari Sabat? (Yesus dengan jelas mendesakkan
apa yang seharusnya menjadi standar yang patut bagi pemeliharaan hari
Sabat, bukannya menyoal perlunya standar atau tidak.)
- Mengapa
Yesus harus
marah terhadap orang-orang ini? (Masa kecil saya dihabiskan di
sekolah-sekolah gereja yang punya banyak aturan. Saya tidak mendapati bahwa
penerapan aturan-aturan ini merupakan dosa. Melanggar aturan-aturan
tersebutlah yang sepertinya merupakan dosa. Baru tahun-tahun terakhir
ini saja saya mulai paham prinsip dari Ulangan 4:2: adalah salah jika
kita menambahkan aturan yang Allah tidak haruskan, sama salahnya jika
melanggar aturan yang Allah tetapkan. Kita merebut posisi Allah jika
melakukan kedua hal tersebut.)
- Baca
Markus 3:6. Apakah ayat ini membuat kita lebih paham mengapa Yesus marah?
(Bandingkan dengan pertanyaan yang Yesus tanyakan dalam Markus 3:4. Yesus
mengatakan dengan tepat sekali! Benak para pemimpin Yahudi ini begitu
diselimuti oleh pikiran egois sehingga bahkan di hari Sabat pun mereka
bersedia merencanakan bagaimana caranya membunuh seorang yang melakukan
“dosa” karena menyembuhkan orang lain. Ia menyembuhkan, mereka membunuh.
Tak ada ironi yang lebih hebat dari peristiwa ini!)
- Babi
yang Tercebutr
- Baca
Matius 8:28-29. Kita bisa mencurahkan seluruh waktu kita untuk cerita
singkat yang ajaib ini. Menurut saudara bagaimana sampai orang kerasukan
setan? Bagaimana caranya orang yang dirasuk setan mendapatkan pertolongan
menurut cerita ini? (Sejauh yang diungkapkan oleh cerita ini,
individu-individu yang kerasukan setan tidak sanggup meminta tolong.
Kuncinya adalah dengan datang ke tempat di mana Allah berada.)
- Manusia
boleh jadi tidak mengenali Yesus sebagai Allah, tetapi bukti apa yang
kita dapatkan bahwasanya setan mengenaliNya dan kemenanganNya terhadap
dosa? (Setan-setan tersebut mengakui Yesus sebagai “Anak Allah” dan
mereka mengetahui kekalahan akhir mereka.)
- Bagaimana
mungkin? Yesus belum menang atas dosa oleh kehidupan, kematian dan
kebangkitanNya. (Sepertinya “tim lawan” amat kehilangan semangat
melihat kehadiran Yesus di dunia.)
- Baca
Matius 8:30-32. Pelajaran kita adalah tentang perilaku Yesus yang
membingungkan. Saya juga bertanya-tanya tentang perilaku setan yang
membingungkan. Mengapa mereka bertindak demikian?
- Mengapa
Yesus mengijinkan peristiwa ini terjadi?
- Mari
kita jawab pertanyaan sebelumnya yang belum terjawab. Apa yang kita
pelajari tentang bagaimana sampai orang dirasuk setan? (Setan bahkan
tidak bisa masuk ke dalam babi tanpa seijin Allah. Jelas mereka tidak
dapat masuk ke dalam diri kita tanpa kita memutuskan untuk memberi
ijin.)
- Apa
tujuan Setan bagi masing-masing kita? (Membinasakan kita. Mau bukti? Lihat apa yang
terjadi pada babi-babi ini. Pengrusakan adalah aturan pertama di
kalangan setan.)
- Mengapa
orang yang kerasukan setan tidak dibinasakan oleh setan? Mengapa setan-setan
tersebut tidak menenggelamkan mereka? (Roh Allah yang mencegah
setan-setan tersebut.)
- Apakah
Yesus tidak menghargai kepemilikan pribadi? Tentunya Ia mengetahui sifat
alamiah dari setan-setan ini! (Misalkan pemiliknya orang Yahudi, mereka
tahu bahwa babi itu haram dan tidak boleh dimakan. Imamat 11:7-8. Barnes’
Notes menyebutkan bahwa hukum yang berlaku melarang orang Yahudi
untuk memelihara babi sekalipun untuk maksud dibesarkan dan dijual.)
- Jika usaha saudara dibangun di atas prinsip yang melanggar
hukum, apakah saudara terpapar risiko?
- Kegelojohan
- Baca
Matius 11:16-17. Yesus biasanya suka mengucapkan hal-hal yang baik
tentang anak-anak. Apakah anak-anak ini berada pada posisi baik ataukah
buruk? (Mereka ini mirip dengan anak-anak yang biasa saya temui. Mereka
mau orang lain yang melakukan tugas mereka.)
- Haruskah
“anak-anak lain” di pasar tersebut menari atau berkabung?
- Baca
Matius 11:18-19. Apa kaitannya dengan anak-anak? (Anak-anak ingin agar
“yang lain” menari atau berkabung sesuai keinginan anak-anak tersebut.
Yesus mengatakan bahwa Ia dan Yohanes Pembaptis tidak ingin melakukan apa
yang orang lain harapkan, akibatnya mereka dikata-katai.)
- Kembali
ke pendeta saudara. Apakah ayat ini berlaku pada pandangan saudara
terhadap pendeta saudar?
- Menurut ayat ini, Yesus tidak hanya makan lebih banyak dan
minum anggur lebih banyak (“peminum”) daripada Yohanes Pembaptis (yang
adalah Nazir Allah – dan tidak pernah menyentuh anggur), Ia bergaul
dengan orang jahat. Apakah hal ini dengan sendirinya membuktikan bahwa Yesus
melakukan hal yang salah?
- Jika tidak, bagaimana saudara tahu?
- Apakah pemimpin rohani saudara diijinkan untuk berbuat apa
saja? (Jawabannya
terletak pada bagian akhir dari Matius 11:19: “Tetapi hikmat Allah
dibenarkan oleh perbuatannya.” Kita tidak boleh menilai berdasarkan
fakta bahwa pemimpin rohani tersebut tidak melakukan apa yang kita akan
lakukan. Melainkan, kita perlu melihat hasil dari tindakan pemimpin
tersebut.)
- “Apakah
hal ini menunjang pepatah lama yang mengatakan bahwa “tujuan
menghalalkan cara?” (Tidak. Perhatikan lagi ilustrasinya. “Anak-anak”
(orang yang belum dewasa secara rohani) mengharapkan sang pemimpin
melakukan apa yang mereka kehendaki. Yesus tidak mengabsahkan dosa
sebagai metoda mengabarkan kerajaan Allah. Akan tetapi, ia
mengatakan jangan memberlakukan preferensi pribadi atas diri pemimpin
saudara. Pujian dan ibadah gaya kontemporer bukan preferensi saudara?
Jika cara itu membawa banyak orang untuk mendengarkan injil, janganlah
mengeluh. Terutama, jangan mengajukan dakwaan yang keliru.)
- Sobat,
pikirkan kisah-kisah ini. Penyembuhan orang yang tangannya lumpuh pada
hari Sabat membuat berang para pemimpin Yahudi. Babi yang tenggelam
membuat berang masyarakat setempat. Kebiasaan makan Yesus mengundang
kritik. Jika engkau tergoda untuk mengkritik pemimpin rohanimu, mintalah
agar Allah meningkatkan pemahamanmu. Apakah engkau berseberangan dengan
kehendak Allah? Apakah engkau bersikap seperti anak-anak – karena
sebetulnya persoalannya bukanlah perkara rohani? Mungkin engkau benar atau
mungkin semata karena “babi”-mu tenggelam! Maukah engkau hari ini sepakat
untuk memohon tuntunan Roh Kudus dalam pertanyaan-pertanyaan seperti ini?
- Pekan
depan: Intensitas pergaulanNya dengan Bapa.