Arti Kematian-Nya
(Matius 16, Roma 3, 5 & 6)
Yesus yang Ajaib: Pelajaran 10
Copr.
2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
Kalau saudara membaca pelajaran-pelajaran ini secara teratur, saudara pasti
tahu bahwa saya selalu memperhatikan logika ayat Alkitab. Jika saya mengenakan
alas kaki dari orang-orang yang mendengar Yesus, bagaimana reaksi saya? Secara logika apa yang menjadi
pekabaran dari Allah? Salah satu pekabaran yang dulu menyulitkan saya adalah
logika keselamatan. Mengapa kematian Allah saya memberi hidup kekal kepada
saya? Mengapa hal tersebut dapat membayar hukuman mati yang dikenakan kepada saya
karena dosa saya? Logika peradilan Amerika benar-benar kebalikannya. Saat masih
di sekolah hukum, saya diajarkan tentang ujaran lama “Lebih baik membebaskan
1,000 orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah.” Mengapa Allah merencanakan
agar Orang yang Tak Bersalah dianiaya dan dibunuh? Bagaimana secara logis
kejadian ini membayar kesalahan saya? Mari selami pelajaran kita dan lihat apa
yang kita bisa temukan dalam Alkitab!
- Tebusan
- Baca
Matius 16:21-22. Mengapa Petrus begitu keras membantah Yesus? (Baca Kisah 1:6.
Yesus segera akan kembali ke surga dan murid-muridNya masih mengira bahwa
tujuan Yesus dalam waktu dekat adalah mendirikan sebuah kerajaan di atas
bumi! Tak pelak lagi pemikiran tentang “kerajaan” ini ada di benak Petrus
saat ia mengkoreksi Yesus. Bagaimana bisa Yesus mati kalau Ia akan
memerintah?)
- Baca
Matius 16:23. “Pikiran manusia” yang bagaimana yang ada dalam benak
Petrus? (Memerintah bersama Yesus. Petrus ingin menjadi penguasa duniawi
juga. Bagaimana bisa Petrus memerintah jika Gurunya tidak menjadi
penguasa?)
- Baca
Matius 16:24-26. Apa tepatnya yang Yesus katakan sebagai rencana Allah
bagi kehidupan kita? (Mengikut Yesus dengan menyangkal diri.)
- Menyangkali
apa? Ingat bahwa konteksnya adalah perbantahan antara kematian Yesus
yang sudah dekat lawan menjadi penguasa. (Menyangkali tujuan kita untuk
memperoleh dunia. Inilah persisnya yang menjadi rencana Petrus –
memerintah bersama Yesus. Inilah benturan dari pandangan dunia. Petrus
ingin memerintah, oleh mana orang lain akan melayaninya. Yesus ingin
Petrus melayani orang lain.)
- Apa
artinya memikul salib Yesus? Jangan berikan jawaban “otomatis.” Apa yang
akan saudara lakukan hari Senin ini untuk memikul salib Yesus?
- Apa pendapat saudara mengenai fakta bahwa saat Yesus mengangkat
salibNya Dia berada di jalan menuju kematian?
- Pada pembicaraan lain, segera setelah para murid membahas
tentang mereka akan menjadi penguasa, Yesus kembali berbicara mengenai
kematian-Nya. Baca
Markus 10:42-45. Apa yang dikemukakan di sini mengenai hal yang harus
kita lakukan untuk menyangkali diri kita dan memikul salib? (Melayani
orang lain.)
- Yesus
menggunakan istilah yang sangat ganjil. Ia mengatakan bahwa hidupNya
merupakan “tebusan bagi banyak orang.” Kepada siapa tebusan itu
dibayarkan? Untuk siapa tebusan itu dibayarkan?
- Apakah
hal ini masuk akal bagi saudara? (Di bagian pendahuluan saya menulis
bahwa negara Amerika Serikat tidak pernah berupaya mengeksekusi seorang
yang tidak bersalah. Namun, saya paham akan logika dari pencuri dan
penculik yang menuntut uang tebusan untuk membebaskan seseorang.)
- Yesus
membandingkan hal menjadi pelayan dengan membayar tebusan. Dapatkan
saudara melihat adanya logika di sini? (Manakala saya melayani orang
lain, saya memberikan sesuatu yang akan membuat kehidupan orang
tersebut menjadi lebih baik. Itulah salah satu cara untuk menilik
tentang tebusan. Saudara memberikan sesuatu untuk membantu orang lain.
Untuk beberapa waktu ini saya memotong rumput halaman rumah tetangga
saya yang sudah tua. Pekerjaan tersebut menghabiskan waktu saya (yang
bernilai) dan uang saya (bensin). Jelas saya memberikan
sesuatu untuk keuntungan pasangan ini. Halaman yang rumputnya dipangkas
akan memperbaiki kehidupan mereka – juga kehidupan saya karena rumah
mereka persis di sebelah rumah saya.)
- Karena
tebusan biasanya dituntut oleh orang-orang jahat, apakah salah jika
Allah meminta kita menjadi pelayan bagi orang lain?
- Apakah kita nanti tidak akan menjadi pelayan bagi orang lain
di dunia yang sempurna? (Di dunia kita yang jahat, hanya orang jahat yang
meminta uang tebusan. Bayangkan sebuah dunia di mana semua kita dengan
sukarela saling melayani. Menurut saya itulah tujuan Allah bagi
umatNya. Allah mengilustrasikan hal ini dengan cara mati bagi kita.)
- Sampai kadar tertentu saya mengerti logika dari uang tebusan.
Saya mengerti “pandangan dunia” tentang melayani sesama. Masalahnya,
membayar uang tebusan mendorong orang jahat untuk melakukan lebih banyak
kejahatan kepada lebih banyak orang. Dan, saya masih menghadapi masalah
logika dengan “matematika” dari bagaimana kematian Yesus membayar dosa
saya. Kita akan menyelidiki hal tersebut berikut ini.
- Kematian
Diri.
- Baca
Roma 6:8 dan 2 Timotius 2:11. Menurut saudara apakah kita mati saat Yesus
mati? Tak seorang pun pembaca pelajaran ini yang sudah lahir saat Yesus
mati. Bagaimana bisa Alkitab mengatakan bahwa kita “mati” bersama Yesus?
- Baca
Ibrani 7:1-9. Bagaimana bisa dikatakan bahwa Lewi membayar persepuluhan
kepada Melkisedek. Lewi belum lagi lahir.
- Baca
Roma 5:12-14 dan 1 Korintus 15:22. Bagaimana bisa saya mati saat Adam
mati? Saya belum lagi lahir? (Salah seorang kawan lama ayah saya, Patrick
Stevenson, belum lama ini menghubungi saya dan menjelaskan teori yang
muncul dari ayat-ayat ini. Saat Yesus mati bagi dosa-dosa kita, kita mati bersamaNya.
Stevenson
menyebut hal ini teori “identitas bersama.” Teori ini benar-benar masuk
akal bagi saya. Mengapa? Karena dalam teori ini saya – orang yang
bersalah – mati bagi dosa-dosa saya “bersama-sama” melalui Yesus. (Kalau
ada yang salah dalam hafalan saya mengenai penjelasan Stevenson, tak
sangsi lagi itu salah saya, bukan salah dia.))
- Salah satu kemasygulan saya mengenai paparan identitas bersama
ini adalah bahwa itu artinya semua orang diselamatkan – sebuah gagasan
yang tidak sejalan dengan banyak ayat lainnya di Alkitab. Jika tidak semua orang
diselamatkan, bagaimana kita diikutsertakan dalam kematian “bersama” bagi
dosa? Bagaimana “tagihan dosa” kita diberi stempel “lunas?” (Baca Roma
6:3-4. Alkitab mengatakan bahwa ketika kita dibaptis kita “dibaptis dalam
kematian-Nya.” Saat kita menerima Yesus sebagai Juruselamat dan dibaptis,
kita menerima kematian-Nya sebagai kematian kita.)
- Apa
arti kematian ini bagi sisa hidup kita di atas bumi? Apa yang harus
menjadi berbeda setelah saudara menemukan bahwa saudara mati bersama
Yesus – selain bahwa hal tersebut memberi kelegaan yang luar biasa? (Baca
Roma 6:1-2. Dalam baptisan kita mati dengan Yesus dan kita dibangkitkan
ke dalam hidup baru bersama Yesus. Kita mati bagi hidup lama kita. Tujuan
kita seharusnya adalah kekudusan. Mari kita selidiki lagi.)
- Hidup
yang Suci.
- Baca
Roma 3:10-12. Wah, gagasan saya tentang menghidupkan kehidupan yang suci
tidak panjang umurnya. Apakah kita ditakdirkan untuk menjadi “tidak
berguna” sekalipun kita mati bagi dosa?
- Baca
Roma 3:20. Apa untungnya saya hidup dengan adanya fakta bahwa saya tidak
berguna? Bagaimanakah hal tersebut mendorong saya untuk lebih sadar akan
kesalahan saya? (Hukum Allah menunjukkan jurang lebar yang memisahkan
hidup saya dan hukumNya yang sempurna.)
- Tapi,
apakah baik bagi saya – untuk menyadari betapa tidakbergunanya saya? Di
masa muda saya membaca tulisan-tulisan Ellen White. Dia percaya akan
kesucian. Saat saya melihat standar yang dia acungkan untuk saya,
rasanya mau menyerah saja. Tidak mungkin saya memenuhi standar tersebut.
Tidak mungkin.
- Baca
Roma 3:21-23 dan Roma 3:27-28. Dapatkan saudara memenuhi standar Allah?
(Puji Tuhan, ya! Seperti halnya kita mati bersama Yesus, demikian juga
kita bersama dijadikan sempurna dengan Yesus. Imanlah yang menyelamatkan
kita dan menjadikan kita sempurna.)
- Jadi,
bagaimana seharusnya saya hidup? Apakah Ellen White benar dengan
penekanannya akan kehidupan yang suci? (Ya. Baca ulang Roma 6:1-2 dan
baca Ibrani 10:26. Kita perlu senantiasa bekerja (ya, saya maksudkan
bekerja) untuk mengambil keputusan yang tepat. Kita “meneguhkan hukum”
(Roma 3:31) oleh kebulatan tekat kita untuk menghidupkan kehidupan yang
suci. Ketika saya sangat kecil hati dengan Ellen White, saya mengira
hidup yang sempurna sangat perlu sekali untuk selamat. Kini saya sadar
bahwa keselamatan saya adalah oleh iman kepada Yesus. Terpeleset di
jalan menuju kesucian tidak membuat saya tersingkir dari kasih karunia
Allah. Yang menyingkirkan saya dari kasih karunia-Nya adalah saat di
mana saya berhenti mengindahkan perjalanan menuju kesucian. Ketika saya
terus-terusan dengan sengaja melakukan dosa, saya mulai menggeliat-geliat
untuk keluar dari genggaman Allah.)
- Sobat,
bagaimana dengan engkau? Engkau pantas mati oleh perbuatanmu. Namun,
engkau dapat mati bagi dosa-dosamu oleh mengakuinya di hadapan Allah, dan
menerima Yesus dan kematian-Nya bagi dosa-dosamu lewat baptisanmu. Engkau
dapat dibenarkan dan dibangkitkan kepada hidup yang kekal oelh menerima
kebangkitan Yesus ke dalam hidup yang baru untuk menggantikanmu. Dengan
jaminan keselamatan ini, engkau dapat memulaikan perjalananmu menuju
hidup yang suci. Apa tanggapanmu? Maukah engkau menerima Yesus sekarang?
- Pekan
depan: Kuasa Kebangkitan-Nya