Segala-galanya
Bagi Semua Orang: Paulus Berkhotbah Kepada Dunia
(1 Korintus
9 & 10)
Agen-agen
Pengharapan: Pelajaran 2
Copr.
2008, Bruce N. Cameron, diterjemahkan oleh Debbie Jacobs. Semua referensi
Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru ©1974 Lembaga Alkitab Indonesia,
kecuali disebutkan lain. Saran jawaban terdapat di dalam tanda kurung. Pengajar
diasumsikan menggunakan papan tulis atau alat peraga lainnya dalam membawakan
pelajaran. Pelajaran ini dapat dilihat di http://www.GoBible.Org/indonesian.
Pendahuluan:
“Mengapa kita menggunakan cara-cara dunia? Yang kita perlukan adalah Roh
Kudus!” Sejumlah pemimpin gereja memandang pekerjaan penginjilan seperti upaya
yang dilakukan dalam dunia usaha. Strategi yang sukses diterapkan di dunia
usaha patut dijalankan di gereja. Yang lain berpendapat bahwa kita tidak
memerlukan strategi modern. Kita hanya perlu bergantung pada Roh Kudus untuk
menarik jiwa. E.M. Bounds mengatakan: “Manusia mencari metode yang lebih baik,
Allah mencari manusia yang lebih baik. Manusia merupakan metode Allah.” Apakah
pandangan ini masuk akal? Bukankah manusia yang lebih baik ini akan mencari
metode yang lebih baik. Bagaimana jika Roh Kudus menyuruh kita menggunakan
strategi modern? Apakah sudara bersedia mengubah acara ibadah di gereja sebagai
suatu strategi untuk menarik anggota baru? Bagaimana jika saudara berpendapat
bahwa dari perubahan-perubahan tersebut ada yang tidak benar secara teologis.
Apakah saudara akan tetap menjalankan perubahan tersebut? Bagaimana dengan
anggota-anggota yang berpendapat bahwa perubahan tersebut merupakan dosa? Mari selami pelajaran kita
dan temukan apa kata Roh Kudus melalui misionaris Paulus tentang mempertobatkan
dumia!
- Segala-galanya
bagi Semua Orang
- Baca
1 Korintus 9:19. Pekerjaan apa yang Paulus maksudkan saat ia mengatakan
“memenangkan sebanyak mungkin orang?” (Ia sedang membicarakan bagaimana
supaya orang berdosa bertobat. Ia sedang membicarakan penginjilan.)
- Apa yang saudara pahami dari kata-kata Paulus bahwa ia
menjadikan dirinya hamba? Ia kehilangan kebebasan? (Ia meninggalkah
hal-hal yang ia gemari. Ia mendahulukan keinginan orang lain.)
- Baca
1 Korintus 9:20-22. Apakah Paulus bersikap munafik manakala ia mengatakan
kepada sebagian orang bahwa ia menjadi seperti orang yang hidup di bawah
hukum dan kepada yang lainnya ia mengatakan tidak hidup di bawah hukum?
- Apakah
penurutan hukum itu perkara moral? Apakah keselamatan hanya oleh iman
merupakan perkara moral?
- Apakah
ini yang dibicarakan Paulus saat ia mengatakan “di bawah hukum?” (Tentu
ia sedang membicarakan tentang penurutan dan keselamatan.)
- Galatians
2:11-14.) Kalau ini bukan perkara moral, setidaknya ini
suatu perkara di mana kita dapat katakan bahwa satu kelompok secara
teologis benar dan kelompok lain secara teologis tidak benar? (Ya. Untuk
menambah seru pembahasan ini baca Galatia 2:11-14.)
- Jika
saudara sepakat bahwa ada jawaban benar dan jawaban salah soal hidup di
bawah hukum, apakah menurut Paulus membuat orang bertobat lebih penting
daripada menjadi benar secara teologis? (Ia mengatakan adalah benar
secara teologis untuk “menyesuaikan diri.” Namun, perhatikan 1 Korintus
9:21 di mana ia mengatakan ia hidup di bawah hukum Allah/Kristus. Ia
terikat dengan prinsip moral.)
- Keputusan-keputusan
yang diambil di Dunia Nyata
- Coba kita bahas aplikasinya di gereja saudara. Saat datang ke
pengadilan, saya selalu mengenakan jas dan dasi. Saya yakin saya harus
menunjukkan rasa hormat yang sama kepada Allah dengan mengenakan jas dan
dasi saat ke gereja. Satu hari seseorang mengatakan bahwa kebanyakan
orang tidak mengenakan jas dan dasi dan, mungkin saja, saya membuat orang
baru tidak berani datang ke gereja jika mereka tidak punya jas dan dasi. Anggaplah
saya benar bahwa saya harus mengenakan dasi di hadapan Allah kalau saya
mengenakannya di hadapan hakim yang manusia. Apa yang akan dikenakan
Paulus jika ia beranggapan bahwa dasi akan membuat orang baru kecil hati
dan enggan datang ke gereja?
- Belum
lama ini saya mendengarkan khotbah dari pendeta di gereja Mars Hill.
Khotbahnya sangat bagus. Pendetanya mengenakan jeans sobek dan kaos
oblong. Saya tidak pernah membayangkan mengenakan pakaian seperti itu ke
gereja – apalagi jika saya yang berkhotbah. Apa yang sedang dilakukan
oleh pendeta di Mars Hill, dan apakah ia melakukan hal yang
benar?
- Saya
menyukai lagu-lagu pujian kontemporer. Levi Tavares, penerjemah hebat
pelajaran ini bagi pembaca berbahasa Portugis, menggemari hymne lama,
bukan lagu pujian kontemporer. Jika gereja saja berlokasi di lingkungan
yang dihuni oleh orang-orang seperti Levi, haruskah saya menghentikan
kegemaran saya menyanyikan lagu-lagu pujian kontemporer agar saya bisa
menghadirkan orang-orang seperti Levi ini ke gereja?
- Bagaimana
andai Levi mendapati bahwa komunitasnya dihuni oleh orang-orang seperti
saya yang gemar lagu pujian kontemporer? Haruskah ia membuang buku
hymne-nya dan mulai menyanyikan lagu pujian kontemporer agar orang-orang
ini mau datang ke gereja?
- Bagaimana
andai kebanyakan orang-orang di lingkungan tersebut bergereja pada hari
Minggu, dan saudara percaya bahwa Sabat hari yang ketujuh adalah hari
beribadah yang sejati: haruskah saudara menambahkan acara tambahan pada
hari Minggu, sampai saudara bisa mengajar mereka tentang Sabat?
- Jika
saudara mengatakan, “Tidak, jangan bertindak bodoh,” menurut saudara apa
yang Paulus maksudkan saat ia mengatakan “aku menjadi seperti orang yang
tidak hidup di bawah hukum taurat?” (1 Korintus 9:21)
- Bagaimana
jika setengah anggota-anggota saudara yang ada sekarang meninggalkan
gereja karena pendetanya mulai mengenakan jeans sobek, musiknya berubah
dan saudara mulai mengadakan acara ibadah di hari yang salah? Apakah
tujuan Paulus untuk “menyelamatkan orang” itu tidak termasuk
anggota-anggota yang ada sekarang?
- Prinsip
yang Disepakati Bersama
- Saya
yakin pembicarakan kita ini ibarat membongkar sarang lebah. Jika
prinsipnya adalah “melakukan apa saja” untuk membawa masuk anggota baru,
maka kita harus melakukannya. Namun, bukan itu yang Paulus ajarkan. Kita
perlu memahami ajarannya agar kita dapat mengambil keputusan yang sesuai
prinsip saat mengabarkan injil. Coba tengok penerapan pada zaman Paulus untuk
coba memahami prinsip-prinsip dasarnya.
- Baca
1 Korintus 10:25-26. Masalah hati nurani apa yang terkait di sini? (Jika
saudara baca 1 Korintus 10 saudara akan dapati bahwa Paulus sedang
menuliskan tentang penyembahan berhala. Ia mengatakan jangan
menyembah berhala dan jangan melakukan persembahan kepada berhala. Namun,
jir\ka saudara tidak mempersembahkan daging kepada berhala dan saudara
membeli daging yang tidak diketahui asal-usulnya, tak perlulah saudara
menguatirkan kalau seseorang sudah mempersembahkannya kepada berhala.)
- Baca
1 Korintus 10:27-29. Peraturan baru apa yang Paulus berikan kepada kita
dalam hal menyantap makanan? (Sekalipun tidak salah menyantap daging yang
telah dipersembahkan kepada berhala, jika ada orang yang bermasalah
dengan hal tersebut, janganlah saudara makan “daging berhala” di hadapan
mereka.)
- Apakah
gereja berpendapat bahwa saudara boleh makan daging yang telah
dipersembahkan kepada berhala? (Tidak. Baca Kisah 15:23-29.)
- Atas
wewenang siapa keputusan ini diambil? (Para pemimpin jemaat mula-mula,
di bawah tuntunan Roh Kudus.)
- Apakah
ini berarti Paulus melanggar hukum moral saat ia makan daging yang
mungkin telah dipersembahkan kepada berhala? (Menurut hemat saya Paulus
tidak beranggapan demikian, namun jelas bahwa orang lain dapat
bersikeras bahwa Paulus melanggar hukum moral.)
- Baca
1 Korintus 9:22. Apakah aturan utama Paulus? (Memenangkan orang lain bagi
Kristus.)
- Apakah
termasuk di dalamnya tidak melukai hati orang yang lemah yang ada di
gereja? (Baca
1 Korintus 10:31-33. Ya, kita tidak ingin “menjadi batu sandungan” bagi
orang-orang yang sudah ada di gereja.)
- Apa
yang telah kita pelajari sejauh ini tentang usaha kita dalam pengabaran
injil? Coba kita tinjau ulang dan aplikasikan semua prinsip ini pada situasi
modern yang telah kita bahas: 1) Pakaian gereja; 2) Musik gereja; dan 3)
Hari berbakti yang berbeda dari biasanya? (Ini jelas merupakan area
perselisihan teologis di mana kita harus “membatasi kebebasan” kita untuk
mengajak orang lain bertobat. Hal ini, pada gilirannya, dibatasi oleh
anggota yang “lemah” yang beranggapan bahwa ada masalah moral terkait di
sini, sekalipun tidak demikian.)
- Apakah
ini berarti kita dibuat menjadi lumpuh? Kita ingin melakukan hal-hal baru
untuk membawa orang-orang baru, namun anggota yang lemah menghalangi kita
untuk melakukan hal tersebut? (Baca Roma 15:20. Ingat bahwa Paulus
mengadakan perjalanan dari satu kelompok ke kelompok baru lainnya.
Saudara mungkin perlu memulaikan acara baru di gereja atau menanam jemaat
baru untuk melakukan sesuatu yang berbeda untuk menarik anggota-anggota
baru.)
- Sobat,
saya tidak mengganggap bahwa Paulus menyuruh kita melanggar prinsip moral
dalam usaha kita memenangkan orang lain bagi Kristus (1 Korintus 9:21).
Bagaimanapun, ia memang menyuruh agar kita perlu membatasi kebebasan kita
terhadap hal-hal yang menjadi perdebatan hangat. Masalahnya adalah
bagaimana berurusan dengan anggota-anggota yang “lemah” yang beranggapan
bahwa masalah moral sedang dipertaruhkan kendati tidak demikian. Jika gerejamu
mengalami stagnansi, maukah engkau berdoa agar Allah menunjukkan apa
perlu engkau ubah agar orang-orang baru mau datang? Maukah engkau juga
mendoakan agar Allah memberikan anggota-anggota jemaatmu kesanggupan
untuk membedakan pilihan pribadi dan perkara moral yang sebenarnya?
- Pekan
depan: Yohanes Pembaptis: Mempersiapkan Jalan bagi Yesus.